Kodim Jambi Gelar Komsos Dengan Komponen Bangsa Pasca Ledakan Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar, Polda Jambi Tingkatkan Pengamanan Satukan Komitmen, TNI AD Gelar Bimtek Penilaian Sistek Info Kotama dan Balakpus Pangdam XVII/Cenderawasih Buka Turnamen Bola Voli Dalam Rangka Hari Juang Kartika TNI-AD Tahun 2022 Lewat Adu Penalti, Maroko Usir Spanyol dari Piala Dunia 2022

Home / Ekonomi

Jumat, 28 Januari 2022 - 13:08 WIB

Bensa, Varian Baru Bahan Bakar Nonfosil

Sriwijayadaily

Bensin sawit alias bensa. Inilah varian baru bahan bakar nonfosil, alias bensin berbahan dasar nabati (minyak sawit industri). Keberadaan Bensa mulai dikenalkan.

Sekalipun masih tahap uji coba, Bensa mendapat pujian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif. Pujian itu bukan semata-mata lantaran uji coba tersebut hasil kerja sama Kementerian ESDM dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), namun, karena kualitasnya memang bagus. Bensin biasa memiliki Research Octane Number (RON) 93 atau di bawahnya. Uji laboratorium bensin sawit bisa sampai 112, bahkan bisa 115.

“Hari ini saya berkesempatan melihat langsung proses dari crude palm oil (CPO) ke bensin. Ini masih tahap pilot project. Masih butuh perjuangan panjang untuk menuju tahap komersial,” ujar Menteri Arifin Tasrif saat mengunjungi Lapangan Produksi Bensa Skala Pilot di Kudus, Jawa Tengah.

Ide mengubah minyak sawit menjadi bensin, sejatinya sudah lama diinisiasi kalangan ilmuwan. Adalah Profesor Subagjo, guru besar di Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai pencetus gagasan tersebut. Ide tersebut kemudian dilanjutkan sang murid, Melia Laniwati Gunawan. Lewat berbagai penelitian, formula Bensa itupun berhasil dibuat.

Tahun lalu, nama Melia juga menghiasi langit ilmu pengetahuan tanah air. Lektor Kepala di Fakultas Teknologi Industri ITB ini berhasil menemukan katalis merah putih –sehingga Pertamina tidak perlu impor katalis lagi untuk proses pengolahan minyak mentahnya.

Baca :  Dukung UMKM Warga Binaan, Babinsa Koramil Muarabungo Sambangi Pembuat Tahu

Untuk urusan Bensa ini, Melia dan koleganya mendapat dukungan Pemerintah. Sejak dua tahun lalu, Kementerian ESDM mendorong hasil laboratoriumnya bisa di scale up.

“Dari skala pilot plant-nya yang ada sekarang ini 1000 liter umpan per hari, itu sudah bisa dihasilkan juga bahan bakar Bensa yang pada saat katalisnya masih segar bisa menghasilkan bahan bakar dengan research octane number (RON) 115, bahan bakar yang berkualitas tinggi,” jelas Menteri Arifin.

Uji coba Bensa ini merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah menemukan energi baru terbarukan (EBT) berbahan nabati. Kisah sukses penemuan energi hijau berbahan sawit pun sudah tersiar luas. Sebelumnya, Pemerintah telah pula mendukung pencampuran sawit dengan solar dan avtur.

Dari uji laboratorium, produk Bensa terbukti menghasilkan energi berkualitas tinggi. Bensa, menjadi salah satu jenis bahan bakar nabati (BBN) yang perlu terus didorong pengembangannya oleh Pemerintah untuk mencapai kemandirian energi dengan mengurangi impor, baik Bahan Bakar Minyak (BBM) maupun LPG, yang terbukti membebani keuangan negara.

Bensa berkualitas tinggi ini akan menjadi parameter untuk penyusunan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) untuk produksi Bensa yang direncanakan berkapasitas 238,5 kilo liter (kl) per hari yang akan dibangun di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Baca :  Gelar National Convention Ke-4, Duta Elok Persada Berikan Apresiasi Pada Mitra Usaha

“Dari skala pilot plant yang ada sekarang ini 1.000 liter umpan per hari. Itu sudah bisa dihasilkan juga bahan bakar bensa yang pada saat katalisnya masih segar, bisa menghasilkan bahan bakar dengan RON 115, bahan bakar yang berkualitas tinggi,” tutur Arifin.

Bensin berkualitas tinggi, merupakan tuntutan jaman, di mana masyarakat dunia sudah lebih peduli dengan penggunaan energi ramah lingkungan. Ini juga menjadi solusi penyerapan produk sawit yang terus meningkat di tanah air.

Sebagaimana diketahui, tuntutan kedepan, adalah penggunaan energi yang bersih, energi yang bisa terbarukan. Karena itu, langkah yang dimulai ITB dinilai sudah tepat. “Tinggal bagaimana kita melaksanakanya agar proyek ini memiliki nilai komersial yang kompetitif,” ungkap Arifin.

Menurut Arifin, rencana uji coba bensa akan diarahkan bukan hanya untuk test belaka tetapi diproduksi secara massal. Melalui pilot plant yang diselenggarakan ini, Arifin mengatakan sudah bisa mengambil parameter bensa yang menuju ke arah produksi komersial.

Pemerintah juga merencanakan target untuk memproduksi bensa sebesar 238,5 kiloliter per hari. Produksi bensa akan dibangun di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Kabupaten Pelalawan, Riau.

Langkah ke depan

Baca :  Berkebun Buah, Peluang Bisnis yang Menguntungkan

Dengan penemuan bensa, minyak sawit tidak lagi hanya bisa jadi minyak diesel. Selama ini minyak diesel sudah bisa dicampur dengan sawit. Sebutannya pun sudah populer: B20 atau B30 hingga B100. Bergantung berapa persen campuran minyak sawitnya.

Tim ITB maju selangkah lagi. Yakni, mewujudkan D100; mengubah minyak sawit menjadi 100 persen minyak diesel. Tanpa dicampur-campur lagi. Meski, produk tersebut masih mengandung kelemahan; bahan baku D100 itu masih dari CPO sawit. Harganya terlalu mahal. Lagi pula, CPO banyak dibutuhkan untuk menjadi minyak goreng, sabun dan lain-lain.

Sejauh ini, perusahaan sawit menyiapkan pabriknya semata-mata untuk memproduksi CPO. Ini karena tujuan akhirnya memang memproduksi minyak goreng. Produk yang laku keras, lantaran dibutuhkan dalam jumlah besar, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

Pada 2022 ini, produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan 47 juta ton atau turun dibanding 2021 yang ditargetkan sekitar 49 juta ton.

Bensa adalah salah satu jenis bahan bakar nabati yang perlu didorong pengembangannya.Hal ini penting dilakukan, jelas Arifin, untuk mencapai kemandirian energi dan mengurangi impor.Terlebih pemerintah tengah mendorong masyarakat untuk menggunakan energi bersih dan terbarukan. “Untuk itu langkah sudah tepat, tinggal bagaimana kita melaksanakannya agar proyek ini memiliki nilai komersial yang kompetitif,” pesan Arifin. (*)

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Ikuti Perkembangan Industri, Pertamina Sesuaikan Harga BBM Non Subsidi

Ekonomi

Alhamdulillah, Harga Bokar di Riau Naik Rp200 per kg

Ekonomi

Ekonomi Sumatera Tumbuh 3,78 Persen, Sumut dan Riau Paling Berkontribusi

Ekonomi

AMMW ke-4 Soroti Penguatan Ekonomi Digital

Ekonomi

Presiden Optimis Pinang Biji Jadi Komoditas Ekspor Unggulan

Ekonomi

Kementan Genjot Produksi Daging Sapi Nasional

Ekonomi

SKK Migas: Pengeboran Sumur Pengembangan Capai 17 Persen

Ekonomi

How One Furniture Manufacturer Goes ‘Beyond Sustainability’