Kodim Jambi Gelar Komsos Dengan Komponen Bangsa Pasca Ledakan Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar, Polda Jambi Tingkatkan Pengamanan Satukan Komitmen, TNI AD Gelar Bimtek Penilaian Sistek Info Kotama dan Balakpus Pangdam XVII/Cenderawasih Buka Turnamen Bola Voli Dalam Rangka Hari Juang Kartika TNI-AD Tahun 2022 Lewat Adu Penalti, Maroko Usir Spanyol dari Piala Dunia 2022

Home / Nasional

Minggu, 31 Oktober 2021 - 23:58 WIB

Mengenal Kesenian Rontek Pacitan

SRIWIJAYADAILY

Pernah mendengar budaya Rontek? Seni budaya yang satu ini terbilang kurang akrab di telinga umum. Rontek merupakan kesenian dari Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Desa ini punya grup Rontek namanya Raung Bambu.

Kesenian yang pernah menjuarai Festival Rontek Pacitan pada 2018 itu terpilih menjadi salah satu pengisi dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2021.

PKN merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek.

Pengasuh Rontek Raung Bambu Pringkuku, Deasylina Da Ary mengatakan kesenian ini mengangkat filosofi hubungan petani dengan simbol kesejahteraan yaitu dewi padi.

Rontek merupakan kesenian khas Kabupaten Pacitan. Rontek berasal dari kata Ronda dan Thethek. Menurut kamus Bausastra kata “Rontek” adalah panji-panji, bendera kecil berlandaian tombak. Sedangkan ronda” adalah kegiatan berjalan berkeliling untuk menjaga keamanan;
berpatroli dan “Thethek” adalah meronda sambil memukul tongtong.

Baca :  Instruksi Kemenkes Larang Apotek Jual Obat Sirup Usai Merebaknya Gangguan Ginjal Akut

Secara bebas, rontek bisa dimaknai sebagai aktivitas masyarakat meronda sambil memukul thethek. Awal mula Rontek merupakan aktivitas masyarakat Pacitan yang sedang ronda malam dengan menggunakan alat kentongan bambu atau oleh masyarakat setempat disebut Thethek.

Kentongan (Thektek) terbuat dari potongan bambu
dengan panjang kurang lebih 50 cm. Rontek sudah ada sejak dahulu, tetapi pada saat itu hanya difungsikan sebagai alat untuk memberikan pertanda dan membangunkan orang tidur.

Dalam perjalanannya, Rontek tak hanya kentongan tapi juga dilengkapi dengan instrumen-instrumen lain. Perbedaan instrumen ini mencerminkan harmonisasi yang sangat kuat.

Selain instrumen yang beragam, dalam penampilannya juga ada tarian.

Tema PKN

Pada Pekan Kebudayaan Nasional tahun ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, mengusung tema “Cerlang Nusantara, Pandu Masa Depan.”

PKN tahun 2021 kali ini berusaha mengajak masyarakat untuk kembali mengenali jati diri dan khazanah budaya bangsa sebagai suatu aset. Dari aset tersebut, lalu diadaptasi menjadi cara hidup yang kekinian untuk menjawab tantangan dari perkembangan dan perubahan zaman. Tema ini dimaksudkan untuk menjawab tantangan utama yang ada di masa sekarang, yaitu gaya hidup.

Baca :  The Importance of Making use of the Best Data to Make Smart Decisions

Menurut Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, PKN 2021 hadir untuk mengawali perubahan gaya hidup. Perubahan tersebut dilakukan dengan memutar haluan dari segala cara hidup lama yang tidak berkelanjutan, untuk memukan arus kebudayaan dari bawah yang akan melontarkan ke masa depan, dan maju ke cara hidup baru yang berkelanjutan.

“Kebudayaan bisa jadi pandu menuju normal baru. Kebudayaan Nusantara telah dihasilkan lewat praktik sosial selama ribuan tahun dan terbukti membuat kita bertahan hingga hari ini. Ke sana kita perlu menengok untuk mencari jalan keluar dari dilema hari ini,” ujar Hilmar, pada peluncuran PKN 2021 secara daring.

Baca :  Severe Relationship Online dating services

Pola konsumsi masyarakat saat ini, kata Hilmar, sudah sangat berlebihan. Pola konsumsi masyarakat yang berlebihan ini ikut membentuk pola produksi yang tidak berkelanjutan. “Untuk menuju ke pola konsumsi yang berkelanjutan, tahun ini program-program PKN disusun dengan berdasarkan pada sandang, pangan, dan papan, sebagai hal fundamental dalam kehidupan masyarakat,” kata dia.

Penyelenggaraan PKN sebagai pergelaran berbasis budaya di tengah-tengah situasi pandemi diharapkan dapat memastikan nyala api dan semangat kebudayaan tetap terjaga di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Melalui berbagai program PKN masyarat diharapkan dapat menemukan kembali kekayaan sandang, pangan, dan papan, untuk menjawab tantangan kehidupan di masa mendatang.

Penyelenggaraan PKN 2021 yang akan berlangsung dari tanggal 19 sampai dengan 26 November 2021. (*)

Share :

Baca Juga

Nasional

MY Bersama Anggota Dewan Pengawas BPKH RI Bahas Kerja Sama Pengelolaan Dana Haji
Foto: BPMI Setpres

Nasional

Ini Hasil KTT Khusus ASEAN-AS

Nasional

Listyo Sigit Prabowo Dilantik sebagai Ketum PB ISSI 2021-2025

Hukum dan Kriminal

Mantan Bupati Kupang IAM Jadi Tersangka Korupsi

Nasional

Menguak Kekayaan Tersembunyi Pulau Batanta Raja Ampat Papua

Nasional

BPBD Tanjab Barat Minta Warga Kualatungkal Waspada Banjir Rob

Nasional

Sinergi KPU-Jurnalis Sukseskan Pemilu 2024

Gema TNI

Sambut Kunker Wakil Presiden di Papua, Danrem 172/PWY Ajak Masyarakat Jaga Ketertiban Dan Kedamaian